RSS

HAND PHONE (Episode II)

01 Apr

ANGELA mengira hanya anak ceweknya saja Manize masih SMP ngamuk ingin Hand Phone baru, bisa foto, bisa vidio wah serba bisa. Hand phone lama. Kadaluarsa. Jadul. Tidak PDD. Di luar sana lebih membumi lagi anak-anak SD kelas satu,  laki perempuan pada ngamuk ke orang tuanya dan sama tidak mau hand phone cuma bisa ngajak atau di ajak bicara.

Pemanasan global Hand Phone

Ibu-bapa pada kebingungan di sana-sini keributan hanya ingin punya Hand Phone hebat, penjual harganya HANYA! Bagi pembeli, WAH MAHAL!

Cek cek cek,cuma bayi di bawah tiga tahun nkali blom mau karena blom bisa pegang, baca dan lain sebagainya. Paling di lempar. Ha ha ha …

“Pokoknya BB Ma!” Desak Manize ke sekian kalinya. Tentu saja dengan aktion Sule sedang iklan cenat-cenut hati. “Bagus Ma …., begini-begitu wah di jelasin seperti iklan promo ama orang tua gaptek.

Panas membara di dada Angela. Darah sering naik ke kepala. Manize tak terkendali tetap harus! Harus!

“Iya beli nanti kumpulin uangnya dulu!” Kata Angela tetap datar tenang.

“Akh! Kapan?”

“Tergantung rejeki dari Allah!”

“Wah tidak bisa! Tidak Bisa! Tidak bisa!”

“Aku tak mau sekolah! Orang lain Hand Phone bagus-bagus Ma!”

Sudah di jelaskan keadaan ekonomi di rumah sedang serba hemat. Telor satu di kocok tahu plus bumbu perbawangan, cabe merah menu hari ini. Jajan baso satu mangkok di bagi-bagi. Ayam atau daging sapi seperempat untuk seisi rumah harus cukup untuk satu hari. Uang bangunan masuk SMP Pavorit masih nunggak. Bayaran tiap bulan tertunda dan tertunda.  Listrik nyaris tak terbayar. Air ledeng jelas beberapa bulan tertunda. Chun Li sedikit menolong uang bayaran tiap ada bea siswa. Transport sekolah mereka berdua cewek tiap hari harus ada. Pensiunan di potong utang tiap bulan sisa tinggal serabus ribuan.

Terlalu sering di bantu anak laki yang sudah kerja atau usaha, tak berani minta kecuali sudah terdesak.

Manize bolak-balik harus beli! Beli! Ancaman mogok sekolah. Manize tak mau tahu.

Angela pasrah sambil terus berdoa agar anaknya sadar, keadaan orang tua sedang hemat.

“Ma!” Sapa Chun Li dengan wajah memelas.”HP qiu hilang!”

“Ooo hilang? Baguslah!” Kata Angela dingin.

“Ketika aku shalat di mesjid kampus Ma! Aku lupa bawa pulang, padahal di simpan di sebelah ketika shalat.”

“O begitu ya! Jadi orang ke mesjid itu bukan hanya tukar sandal yang jelek pilih yang bagus bahkan nyuri sandal atau sepatu. He he he …

Angela sempat berhehehe, “tak apalah nanti beli lagi yang baru! Uang daripada numpuk ngak ke pake beli aja sekalian baru dengan Manize. Beli sepuluh. Klau ilang masih ada serep. Lagi pula hand phonenya sudah jadul! Tidak in lagi! Tidak PD dan bla bla bla …”

“Akh Mama!” Keluh Chun Li tahu Mama Angela sudah terlalu pusing masalah hand phone belum selesai timbul lagi masalah baru. “Kenapa sih Ma ngomong begitu?”

“Hahahahaha …, abis ngemeng ape Neng!” Sela Angela geli bicaranya dapat di artikan Chun Li Mamanya sedang nyindir.

“Coba harus ngemeng ape aku? Marah? Anggap aja di kasiin orang minta. Di minta ngak akan di kasih terpaksa di ambil tanpa pamit! Hehehehe …

Chun Li kesal, “aku gimana klau ada tilpon penting ngak bisa terima. Akh! Sebal!”

Chun kesal marah-marah di rumah, apapun jadi brag-brig-brug.

Angela bengong, “aneh ya! Lagi pula hand phone udah sering jatuh! Udah sering ke cebur air. Biar sepilah tak ada rengekan beli pulsa dan lain sebagainya.”

Putar-puter ada cari hand phone ada yang nganggur punya Bapanya, “pake punya Papap”.

Chun Li senang.

“Ilang juga ngak penasaran Chun Li,” kata Angela karena hand phonenya jadul. “Lagi pula jangan yang bagus dan mahal buat di ilangin lagi atau sering jatuh atau ke cebur air.”

“Akh Mama!” Sela Chun li pusing.

“Lumayanlah dari pada lu manyun! Buat sementawun, sambil tunggu yang bagus dan mahal! ”

Kembali ke Manize masih uring-uringan. “Brak! Hand phone jadul tidak PD hancur di lemparkan, entah ke berapa kali di lakukannya agar dapat ganti yang baru dan mahal.

Di kamar Manize yang berantakan. Ngak siang, ngak malam teriakan histeris sambil apa yang ada di lemparkan maka kamar akan semakin berantakan. Buku-buku pelajaran nyaris jadi sampah.

Angela masuk kamar Manize untuk kesekian kali pula membereskan apa yang hancur, termasuk hand phone amuradul ngampar di lantai.

Tuhan semua yang terjadi adalah kehendak-Mu! Kuatkan aku! Jaga aku supaya tidak terpancing emosi! Harga hand phone jelas ada jumlah nilai harga tapi Manize dia lebih berharga dari hand phone  itu. Hand phone semahal apapun apapun, Manize lebih berharga. Engkau Maha tahu yang aku perbuat demi cinta aku kepada anak-anakku! Engkau cegah aku dari ketidak mampuan memberi setiap keinginan anak-anak karena itu aku sekarang ini tak punya apa-apa yang harus ku beri. Kalaupun ada pasti aku memberikannya padahal itu semua tidak memberi kebaikan kepadanya.

Angela meneteskan air mata, memungut setiap elemen hand phone yang hancur berantakan. Back ground teriakan histeris Manize.

Tuhan aku tidak boleh marah kepadanya, apa yang harus kuberikan kepadanya sementara keadaan di rumah nyaris serba tidak ada.

Sesuatu menyentuh hati Angela, masih ada yang tersisa di dalam hidupmu yaitu kasih sayang. Berikan kasih sayang padanya. Kepada seisi rumah, suami dan anak-anakmu.

Begitukah Tuhan? Betapa aku bahagia Engkau dengar jeritan hatiku. Engkau jaga aku dari bertambahnya dosa. Inilah jalan penebusan! Inilah jalan keselamatan dari Allah Subhannata’alla, dengan KASIH SAYANG!” Amin ya rabbal’allamin.

Angela hatinya berbunga seperti mendapatkan harta lebih dari apa yang ada di dunia. Di bandingkan dengan harta, permata, emaspun tak ada tandingannya.

Rengekan, teriakan histeris, apapun yang ada dalam kamar telah berantakan, Angela membereskannya. Teriakan mengusir Angela terasa suatu yang menyentuh, dia ingin kasih sayang, bukan hand phone itu. Amin.

 
1 Comment

Posted by on April 1, 2011 in Cerpen

 

Tags: , , , , ,

One response to “HAND PHONE (Episode II)

  1. Abie Kolepz

    April 6, 2011 at 6:38 pm

    koreksi ejaan katanya. silahkan tinjau ulang, contoh vidio bukannya yang sesuai dg EYD yang disepurnakan tulisannya Video?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: