RSS

CINTA HADIR TAK DIUNDANG

05 Jun

MANJA, wajah cantik  mirip boneka Susan, lugu, polos itu sangat menghawatirkan Atik sebagai sahabat dekatnya. Wajah kekanak-kanakan, kelihatan Manja sedang mabuk cinta. Mengingat usia mudanya ABG (Anak Baru Gede) di anggap Atik hanya cinta biasa atau cinta monyet tapi tidak boleh dianggap enteng. Bagaimana jika bukan cinta biasa atau cinta monyet?

Wah ini masalah! Manja dan aku menghadapi masalah sama.  Aku harus bisa mencegahnya? Caranya?

Atik sendiri sedang mengalami hal sama seperti di alami Manja. Cari jalan keluar agar dapat menaklukan jiwa, raga dan roh ke hadapan Tuhan karena cinta tidak boleh terjadi secepat apapun, bukan cinta kilat dan cinta itu bukan main-mainan dan bla bla bla.

Atik pagi ini sedang edit naskah kumpulan cerpen dan di monitor masih baru puisi sebagai jawaban melemahkan cinta menggebu dan ternyata puisi itu sanggup menenangkan jiwa, raga dan rohnya sehingga kembali dapat mengisi harinya dengan tenang.

Tapi apakah puisi ini sanggup pula melemahkan, menenangkan Manja untuk tidak menanggapi hatinya yang telah jatuh cinta tidak pada tempatnya? Akan di coba berhasil atau tidak itu urusan nanti yang penting aku telah menjelaskan secara gamblang.

Atik tersenyum getir lihat Manja seperti cacing kepanasan. Dia tak beda seperti anak kecil kehilangan mainannya tatkala mendengar penjelasan Atik. Wajah cantik memerah, air mata mengambang dan tak sempat jatuh ke pipi karena segera di seka oleh ujung bajunya.

Atik merasakan apa yang di rasakan Manja. Peristiwa sama menimpanya jua. Bergetar seluruh tubuh ketika menjelaskan sejelas-jelasnya karena kata-katanya sama di berikan kepada dirinya sendiri.

“Gunung bisa di daki! Lautan bisa di sebrangi! Benteng tinggi kan ku terbangi tapi apakah mampu melewati TIANG KILATAN API, peringatan Tuhan?”

Manja tercengang, hatinya tahu menjerit maratan langit. Atik harus bisa meyakinkan Manja dan meyakinkan dirinya bahwa semua bisa di lewati dengan baik asal melihat TIANG KILATAN API.

“Bayangkan tiang kilatan api dari langit! Halilitar sedemikian dahsyatnya menebar peringatan! Gemanya membumi!  Jangankan bisa  melewati atau melintasinya, baru ke hebos saja tergantung ke dekatannya minimal terbakar setengah hidup atau bisa mati!”

Manja merengek.

“Oke! Sambut Atik. “Misalkan kamu tetap bersi keras akan tetap memutuskan hal tidak mungkin menjadi mungkin. Bukan cinta kalau tidak gila!”

Manja tertawa mendengar kata bukan cinta kalau tidak gila.

“Panggil lakinya!” Kata Atik tegas. “Aku bikin keputusan jitu!”

“Apa?” Tanya Manja penasaran.

“Ya suruh lakinya datang kemari …,” jawab Atik geli.

“Mau ngapain?” Tanya Manja semakin penasaran.

Atik tertawa dulu dan Manja berhehehe karena tahu Atik selanjutnya suka bicara aneh-aneh dan selalu bisa cari jalan keluar untuk segala masalahnya.

“Aku sediain tu tai kotok! Lalu kalian berdua harus memakannya sampai kalian bisa merasakan rasa coklat baru aku setuju!” Jawab Atik tegas.

“Wah! Masaiya?”

“Ya iyalah untuk membuktikan bahwa kalian benar-benar jatuh cinta dan memutuskan untuk hidup bersama mampu melewati tiang kilatan api!

“Kenapa harus begitu?”

“Ya iyalah pelanggaran!”

“Apa iya aku melanggar?”

“Ya iyalah gadis pilih duda beranak? Kenapa sampai bercerai? Kau bisa nilai terhadap istrinya sendiri bisa menceraikannya! Lebih baik kamu menikah dulu dengan pria perjaka ting-ting! Lalu katakan kepada duda beranak itu, tunggu aku jadi janda!”

Kemudian Manja tertawa terbahak-bahak dan di ikuti Atikpun tertawa sampai mulez perut.

“Susah! Apa iya masih ada perjaka ting-ting jaman begini?”

”Pasti ada! Laki-laki paham dirinya untuk siapa? Untuk gadis pilihan dan tidak mau kalau dirinya bekas lalay.”

Mereka tertawa sampai mulez perut.

Atik sangat bahagia bisa menenangkan Manja dan diri sendiri, menyadarkan langkah pelanggaran akan berakibat patal untuk masa depannya yang masih panjang. Menaklukan nafsu jiwa, raga dan roh kepada Tuhan.

“Ada penghiburan yang bisa kau dapat!” Kata Atik bangga. “Baca puisi bagian …, KUBISIKKAN DALAM NAPAS AWAL DAN AKHIR,  PELUK DAN DEKAPLAH DAKU SAYANG ……., selanjutnya bisa baca di puisi AKU DAN TIANG KILATAN API.

Mereka tertawa sampai mulez perut.

CINTA HADIR TANPA DI UNDANG.

Bagaimana akhir cerita ini? Dapatkan cerpen AKU DAN TIANG KILATAN API.

Mei 2011. 618 k

******

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2011 in Cerpen

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: